Minggu, 07 Desember 2008

Munculnya Media - Media Baru

Munculnya media-media baru akhir-akhir ini telah banyak menimbulkan kontroversi. Dalam sebuah masyarakat dimana indivdu-individu terbebas dari sebuah paksaan, ujian kesunyian menjadi terasa riil sebagaimana rasa sedihnya kesadaran kita menghadapi banyaknya kesulitan dalam menjalin kontak dengan sesama.
Sebagai penulis disini saya akan memaparkan tentang sebuah media yang dimana pada kenyataannya media itu sangat digandrungi oleh halayak masyarakat, dan di dalamnya itu terdapat individu-individu yang mau ngga mau harus menghadapi media media tersebut. Kita sebagai manusia bisa menjadi seorang pengguna media yang akan saya angkat disini adalah sebuah media internet yang sempurna namun sebuah internet justru kesulitan menjalin percakapan dengan seorang rekan di sebuah warnet.
Hadirnya Media-Media Baru
Kesunyian Interaktif
Dalam hal ini banyak para pengajar sejak dahulu hingga sekarang mungkin bersepakat mengatakan bahwa pembelajaran komputer terbaik di satu sisi adalah murid yang baik, namun di sisi lain adalah bagian dari kelompok yang harus dipaksa karena memiliki kesulitan dalam berinteraksi. Ciri dari makin banyaknya kesunyian dalam berinteraksi terlihat dari obsesi yang semakin meningkat dan banyak yang secara continue bisa digabungkan, berupa telepon portable dan Net. Sudah banyak ribuan individu bisa bepergian dengan membawa perangkat portable di tangannya sebagai wujud dari surat-menyurat elektronik yang dihubungkan dengan mesin penjawabnya sebagai jaring pengaman terakhir. Sehingga seolah-olah jika orang akan sekarat jika tidak bisa terhubung dengan orang lain dalam media jaringan seperti internet. Sebaliknya, kgelisahan akan datang jika eseorang tidak bisa menerima surat-surat elektronik. Permasalahan muncul dengan beralihnya komunikasi teknik menjadi komunikasi manusia. Karena pada kenyataannya akan selalu datang saatnya ketika kita harus mematikan mesin dan berbicara langsung dengan seseorang. Sebenarnya kompetensi yang kita miliki bersama teknik tidak akan bisa merangkum segala hubungan manusia.
Menjalani Waktu
Tidak ada komunikasi tanpa menjalani suatu kurun waktu, yaitu waktu untuk berbicara, untuk saling memahami, untuk membaca sebuah koran atau buku, atau untuk menonton film, di samping masalah menyangkut perpindahan. Selalu ada sebuah durasi waktu untuk melakukan komunikasi. Termasuk komputer adalah sebagai kelanjutan dari televisi yang telah hadir di rumah-rumah penduduk mereduksi perpindahan yang semakin mempertegas turunnya keterbatasan waktu karena cepatnya pemikiran tersebut. Dengan menekan keterbatasan itu, komputer bahkan hampir menganulirnya. Tentu saja ‘melakukan penjelajahan’ dalam jaringan ini membutuhkan waktu, namun ada sebuah kesenjangan yang sedemikian rupa antara volume hal-hal yang kita akses dengan waktu yang berlalu ketika kita kemudian masuk ke dalam skala waktu lainnya. ‘Hancurnya’ durasi waktu, yaitu lenyapnya perjalanan mengarungi waktu yang sangat terkait erat dengan segenap pengalaman berkomunikasi itulah yang menimblkan permasalahan jika dilihat dari sudut pandang antropologis, sebab masa teknik-teknik baru itu bersifat homogen, rasional dan datar, sedangkan masa manusia selalu tidak continue, dan dapat diketahui perbedaannya.
Transparasi yang Mustahil
Tidak hanya mesin yang terpaksa tidak mampu menyederhanakan hubungan manusia dan sosial, tidak hanya karena mesin penghapus waktu, tetapi kadang-kadang memperluas birokrasi, atau mesin malahan menambah sebuah birokrasi teknik pada birokrasi manusia. Tidak ada yang lebih keliru daripada menghayalkan tentang sebuah masyarakat di mana birokrasi akan lenyap jika setiap orang bisa berbuat segalanya hanya dari perangkat terminalnya. Hal ini berarti melupakan pelajaan dalam sejarah bahwa manusia, organisasi dan institusi tiada henti-hentinya menemukan berbagai proses birokratis karena transparasi sosial itu mustahil adanya.
Dalam setiap ‘tikungan’ komunikasi, alasan-alasan baru birokrasi manusia atau teknik menjadi semakin banyak. Coba kita lihat contohnya pada manusia modern zaman sekarang. Di dalam sebuah kantor dengan perangkat komputer yang sangat begitu banyak, seseorang dengan sekejap dapat mengakses keseluruh dunia secara bebas. Namun, untuk masuk ke dalam perusahaannya ia harus mempergunakan beberapa kode. Artinya , semakin mudah ia bersirkulasi dengan bebas di Web, semakin ia terpenjara pada sat melakukan kegiatan yang memerlukan gerak perpindahan kesehariannya...
Jarak-jarak yang tidak Bisa Dirambah
Bersama media baru, kita disini melihatadanya ketergelinciran penalaran yang kian lama kian parah, berangkat dari premis-premis pertama bahwa performa teknik selalu baik bagi komunikasi manusia sampai pada hasilnya bahwa industri informasi dan komunikasi adalah hal yang terpenting bagi masyarakat di masa depan. Karena manusia memiliki kesulitan untuk berkomunikasi, sementara teknik-teknik komunikasi memainkan peran yang semakin lama semakin penting dalam masyarakat kita, maka setidak-tidaknya sikap saling pengertian antar manusia semakin lama semakin membaik.
Dari sini kita mulai percaya bahwa teknik baru akan memodifikasi hubungan sosial, sayangnya kita hanya membuat satu langkah dari sekian banyak langkah yang seharusnya kita lakukan. Hipotesis yang menjadi dasar pemikiran tentang komunikasi yang lebih baik melalui mesin juga menyiratkan hipotesis lain yang sama terledornya, yakni hipotesis tentang tidak adanya kesenjangan antara pengirim, pesan dan penerima. Sejarah komunikasi, baik komunikasi manusia atau lewat media justru membuktikan sebaliknya. Impian menusia sejak dulu adalah memperkecil kesenjangan ini.
Media-media Baru antara Dagang dan Demokrasi
Kita tahu bahwa media-media massa tidak pernah menyenangkan karena media tersebut membekap berbagai permasalahan jumlah dan demokrasi massa. Sebaliknya jumlah yag dianggap buruk oleh media massa tersebut justru dipuji-puji dalam teknik baru komunikasi. Orang ramai merayakan pengguna Internet yang ke-sejuta, dan irang terkagum-kagum dengan cepatnya koneksi para pengguna dalam jaringan ini, dengan ekspansi CD ROM serta berkembang pesatnya segala jenis multi-media pada umumnya.
Jika selama dua abad cita-cita ideal informasi adalah memproduksi dan menyebarluaskan sebuah berita secepet mungkin dan langsung dpat diakses oleh masyarakat tanpa melalui perantara semacam sensor, ternyata realitasnya sekarang sangatlah berbeda. Kita harus memasukkan kembali perantata untuk memverifikasi kelengkapan dan pengguna informasi, sebab kapasitas teknik sudah sedemikian rupa sehingga jutaan informasi bisa diberikan dan diminta tanpa ada kontrol apapun. Ketdiak adaannya kontrol yang merupakan tujuan demokratis yang harus dicapai selama berabad-abad karena menyangkut pembebasan diri dari sekian banyaknya sensor saat ini justru menjadi salah satu ancaman yang paling utama. Jika kita ingin menyelamatkan kebebasan terhadap informasi, maka sesegera mungkin kita harus mengakui bhwa kebebasan dalam lingkup yang sudah ‘kenyang’ dengan informasi itu harus diproteksi, harus difilter melalui perantara-perantara yang menjamin cita-cita idealnya.
Sebagai anggota masyarakat, kita harus dapat memanfaatkan adanya media baru pada saat ini, karena dengan munculnya media baru kita akan dipermudah untuk dapat melihat luas akan dunia ini. Akan tetapi kita juga ikut serta dalam membangkitkan dengan majunya media-media yang semakin pesat merasuk dalam fikiran kita. Jangan sampai oleh media kita dapat di kendalikan seperti layaknya robot yang dikendalikan oleh penggunanya dengan melalui remote control, akan tetapi adalah kita yang harus memanfaatkan media yang sudah ada untuk kita kelola.

Minggu, 16 November 2008

Berpolitik Dalam Media

Oleh : Arif Friansyah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII 2007

Di negara indonesia, media sangat dibutuhkan untuk kegiatan pencarian informasi. Bagi masyarakat, media sangat penting sekali karena digunakan sebagai akses informasi. Di bidang politik media juga berperan penting. Di bidang politik, media tidak hanya digunakan untuk mengakses sebuah informasi tetapi juga sebagai wadah untuk mengelola kesan yang hendak diciptakan.

Media dan semua orang yang bekerja di dalamnya dipandang sebagai aktor politik penting yang melekat pada diri mereka. Media juga bukan hanya meneruskan pesan dari aktor politik, namun media mentransform pesan-pesan dari organisasi politik dalam beragam proses pembuatan berita dan interpretasi. Relasi antara media dan proses politik bersifat dialektis, yaitu melibatkan aksi dan reaksi. (McNair, 1999 : 47).

Media merupakan sebuah “jembatan” yang menghubungkan antara ide-ide politisi dengan khalayak ramai. Bagi para politisi media digunakan untuk mengungkapkan pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam upaya mendapatkan sebuah citra yang positif. Upaya ini sangat dibutuhkan sekali bagi para poltisi untuk menarik perhatian publik dengan menggunakan jasa media sebagai jembatannya. Sudah terbukti, karena dengan medialah proses informasi dalam berpolitik akan cepat tersalurkan kepada publik. Sebagai salah satu hasil teknologi, TV merupakan salah satu media yang dapat membantu para politisi untuk berpolitik. Salah satu keuntungan bagi para politisi adalah semakin mudah mengakses untuk memuat iklan dan kampenye partai misalnya, karena pada saat ini tayangan TV sudah sangat mudah didapat dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Dalam kerangka pembentukan opini publik, media pada umumnya melakukan tiga kegiatan sekaligus. Pertama, menggunakan simbol-simbol politik (language of politik). Kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (framming strategis). Ketiga, melakukan fungsi agenda media (agenda setting function). (Suwardi, 2004 : 2). Ketika melakukan tiga hal tersebut, bisa jadi sebuah media itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu berasal dari kekuatan opini publik. Dengan melakukan tiga cara tersebut, suatu peristiwa politik dapat menimbulkan opini publik yang berbeda-beda tergantung pada cara media melakukan tiga tindakan tersebut untuk menarik perhatian publik.

Politik dan media diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Media memerlukan politik sebagai makanan empuk bagi mereka, akan tetapi politik juga memerlukan media sebagai wadah untuk mengelola pesan yang hendak dibuat. Dewasanya, kegiatan di bidang media di indonesia telah menjadi industri yang akan mengambil keuntungan dengan jumlah yang sangat besar dari para aktor politik untuk berkampanye. Dengan banyaknya berita-berita atau fenomena-fenomena tentang politik, media mau tak mau harus memikirkan pasar demi memperoleh keuntungan baik dalam segi penjualan maupun iklan berpolitik. Karena pengaruh modal yang di galangkan dari para aktor politik, media akan lebih mengutamakan dan memperhatikan kepuasan khalayak yaitu pelanggan serta pengiklan sebagai pasar mereka dalam mengonsumsi berita-berita politik.

Dunia politik sadar betul tanpa kehadiran sebuah media, aksi politiknya menjadi tak berarti apa-apa. Begitu pula dengan para aktor politik. Mereka membutuhkan sebuah media sebagai sarana untuk mengelola kesan yang hendak diciptakan. Media memang memiliki sebuah kemampuan dalam mereproduksi citra yang dahsyat. Dalam mereproduksi citra tersebut, beberapa aspek dapat dilebih-lebihkan bahkan dapat pula dikurangi dari relitas yang sesungguhnya. Kemampuan media dalam memanipulasi, sekarang ini telah dijadikan amunisi yang dahsyat untuk menciptakan citra baik bagi para aktor politik terhadap publik. Mereka membuat sebuah pesan dalam media kepada masyarakat yang isinya hanya untuk membuat kesan bahwa “akulah yang paling baik”. Biasanya hal ini terjadi menjelang pemilu.

Upaya media untuk menampilkan peristiwa-peristiwa politik dapat mempengaruhi cara berfikir para aktor politik dan masyarakat mengenai perkembangan politik. Secara persuasif, media dapat menggugah partisipasi publik untuk ikut serta dalam merubah struktur politik. Cara yang digunakan oleh media dalam mengubah sistem politik antara lain melalui pembentukan opini publik (public opinion). (Suwardi, 2004 : 9). Dengan ini media berupaya untuk membangunkan sikap dan tindakan khalayak mengenai sebuah fenomena politik. Bentuk pembicaraan tersebut dalam media antara lain berupa teks atau berita politik yang lagi-lagi didalamnya terdapat kerangka pembentukan opini publik yakni menggunakan simbol politik dan fakta politik.

Sungguh ironis, bahwa berpolitik dalam media, para aktor-aktor politik dapat dengan mudahnya membuat sebuah citra yang baik bagi publik.