Berpolitik Dalam Media
Oleh : Arif Friansyah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII 2007
Di negara indonesia, media sangat dibutuhkan untuk kegiatan pencarian informasi. Bagi masyarakat, media sangat penting sekali karena digunakan sebagai akses informasi. Di bidang politik media juga berperan penting. Di bidang politik, media tidak hanya digunakan untuk mengakses sebuah informasi tetapi juga sebagai wadah untuk mengelola kesan yang hendak diciptakan.
Media dan semua orang yang bekerja di dalamnya dipandang sebagai aktor politik penting yang melekat pada diri mereka. Media juga bukan hanya meneruskan pesan dari aktor politik, namun media mentransform pesan-pesan dari organisasi politik dalam beragam proses pembuatan berita dan interpretasi. Relasi antara media dan proses politik bersifat dialektis, yaitu melibatkan aksi dan reaksi. (McNair, 1999 : 47).
Media merupakan sebuah “jembatan” yang menghubungkan antara ide-ide politisi dengan khalayak ramai. Bagi para politisi media digunakan untuk mengungkapkan pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam upaya mendapatkan sebuah citra yang positif. Upaya ini sangat dibutuhkan sekali bagi para poltisi untuk menarik perhatian publik dengan menggunakan jasa media sebagai jembatannya. Sudah terbukti, karena dengan medialah proses informasi dalam berpolitik akan cepat tersalurkan kepada publik. Sebagai salah satu hasil teknologi, TV merupakan salah satu media yang dapat membantu para politisi untuk berpolitik. Salah satu keuntungan bagi para politisi adalah semakin mudah mengakses untuk memuat iklan dan kampenye partai misalnya, karena pada saat ini tayangan TV sudah sangat mudah didapat dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Dalam kerangka pembentukan opini publik, media pada umumnya melakukan tiga kegiatan sekaligus. Pertama, menggunakan simbol-simbol politik (language of politik). Kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (framming strategis). Ketiga, melakukan fungsi agenda media (agenda setting function). (Suwardi, 2004 : 2). Ketika melakukan tiga hal tersebut, bisa jadi sebuah media itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu berasal dari kekuatan opini publik. Dengan melakukan tiga cara tersebut, suatu peristiwa politik dapat menimbulkan opini publik yang berbeda-beda tergantung pada cara media melakukan tiga tindakan tersebut untuk menarik perhatian publik.
Politik dan media diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Media memerlukan politik sebagai makanan empuk bagi mereka, akan tetapi politik juga memerlukan media sebagai wadah untuk mengelola pesan yang hendak dibuat. Dewasanya, kegiatan di bidang media di indonesia telah menjadi industri yang akan mengambil keuntungan dengan jumlah yang sangat besar dari para aktor politik untuk berkampanye. Dengan banyaknya berita-berita atau fenomena-fenomena tentang politik, media mau tak mau harus memikirkan pasar demi memperoleh keuntungan baik dalam segi penjualan maupun iklan berpolitik. Karena pengaruh modal yang di galangkan dari para aktor politik, media akan lebih mengutamakan dan memperhatikan kepuasan khalayak yaitu pelanggan serta pengiklan sebagai pasar mereka dalam mengonsumsi berita-berita politik.
Dunia politik sadar betul tanpa kehadiran sebuah media, aksi politiknya menjadi tak berarti apa-apa. Begitu pula dengan para aktor politik. Mereka membutuhkan sebuah media sebagai sarana untuk mengelola kesan yang hendak diciptakan. Media memang memiliki sebuah kemampuan dalam mereproduksi citra yang dahsyat. Dalam mereproduksi citra tersebut, beberapa aspek dapat dilebih-lebihkan bahkan dapat pula dikurangi dari relitas yang sesungguhnya. Kemampuan media dalam memanipulasi, sekarang ini telah dijadikan amunisi yang dahsyat untuk menciptakan citra baik bagi para aktor politik terhadap publik. Mereka membuat sebuah pesan dalam media kepada masyarakat yang isinya hanya untuk membuat kesan bahwa “akulah yang paling baik”. Biasanya hal ini terjadi menjelang pemilu.
Upaya media untuk menampilkan peristiwa-peristiwa politik dapat mempengaruhi cara berfikir para aktor politik dan masyarakat mengenai perkembangan politik. Secara persuasif, media dapat menggugah partisipasi publik untuk ikut serta dalam merubah struktur politik. Cara yang digunakan oleh media dalam mengubah sistem politik antara lain melalui pembentukan opini publik (public opinion). (Suwardi, 2004 : 9). Dengan ini media berupaya untuk membangunkan sikap dan tindakan khalayak mengenai sebuah fenomena politik. Bentuk pembicaraan tersebut dalam media antara lain berupa teks atau berita politik yang lagi-lagi didalamnya terdapat kerangka pembentukan opini publik yakni menggunakan simbol politik dan fakta politik.
Sungguh ironis, bahwa berpolitik dalam media, para aktor-aktor politik dapat dengan mudahnya membuat sebuah citra yang baik bagi publik.
.jpg)