Kamis, 19 November 2009

Kritik Majalah Playboy Terkait dengan Budaya Lokal

Abstrak
Media global dapat menghubungkan beberapa konsep dalam ekonomi dan budaya. Seperti majalah Playboy yang kontroversial keberadaannya. Yang mana kita ketahui bahwa konten majalah tersebut berseberangan dengan kebudayaan timur bangsa kita. Hal ini menjadi konsekuensi dari adanya globalisasi dan kapitalisme ekonomi. Kritik terhadap media global seperti majalah Playboy tersebut menjadi sangat penting karena dapat menjadi tolok ukur pengkonsumsian media. Yang sadar akan kebudayaan ketimuran. Dan kita dapat membuat filter bagi diri pribadi dengan adanya terpaan budaya barat yang sangat keras di bangsa ini.

Keyword
Majalah, kritik, global, kapitalisme, budaya

Pendahuluan
Komunikasi massa global merupakan hal yang nyata untuk sekarang. Dapat dikatakan bahwa komunikasi massa yang bersifat global merupakan fakta untuk melihat media massa sekarang ini.
Media global merupakan faktor pemicu dan wacana yang berkembang, globalisasi media massa semakin tak terelakkan ketika teknologi komunikasi mendorong industri media. Teknologi transmisi media semakin kuat. Teknologi transmisi media memaksa para pelaku bisnis media membentuk media massa sebagai perusahaan komersial. Misalnya, kita mengenal Harry Potter baik lewat bukunya maupun filmnya. Harry Potter adalah simbol dari pengaruh media global terhadap budaya masyarakat.
Dinamika media global telah menghubungkan beberapa konsep dalam ekonomi dan budaya sebagai isi media atau sistem yang masuk dalam keseluruhan proses media massa. Media massa mempunyai peranan yang cukup besar dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Dari media massa masyarakat dapat menambah pengetahuan mengenai berbagai permasalahan, baik tentang politik, ekonomi, hiburan dan tentang perkembangan dunia internasional.
Menurut jenisnya media massa dibagi menjadi dua yaitu media masaa cetak yang terdiri dari majalah, tabloid, surat kabar dan media massa elektronik. Menurut Ardianto dan Erdinaya(2005,p.113) ”Majalah merupakan media yang paling simple organisasinya , relatif lebih mudah mengelolanya, serta tidak membutuhkan modal yang banyak. Majalah modern muncul sebagai media massa terutama karena perannya sebagai penghubung sistem pemasaran. Seperti halnya koran selama bertahun-tahun majalah mampu merangkum aneka selera dan kepentingan yang luas. Namun tidak seperti media lainnya, sebagian besar majalah yang ada terfokus pada khalayak homogen tertentu atau kelompok-kelompok yang kepentingannya sama. Majalah juga dapat diterbitkan oleh setiap kelompok masyarakat dimana mereka dapat dengan leluasa menentukan bentuk, jenis, dan sasaran khalayaknya. Seperti majalah Playboy, yang targetnya yaitu kaum pria. Majalah Playboy diproduksi oleh 20 negara dengan pola waralaba. Diantaranya yaitu Argentina, Brasil, Bulgaria, Kroasia, Indonesia dll.
Sistem pemberitaan internasional mempunyai peranan dalam menyebarkan budaya massa dari barat yang dapat mengendalikan bagian-bagian dunia lainnya. Budaya massa yang dibawa oleh media cetak seperti majalah, dapat mempengaruhi budaya tradisional. Budaya tradisional dengan masyarakat etnis dan nasionalitas yang berbeda akan mengalami pengikisan budaya oleh gangguan yang mendasar dari budaya barat, khususnya Amerika Serikat dan Inggris.
Orang-orang yang semula mengutuk pengaruh meluasnya budaya massa Amerika, kini malah memeluk segala hal yang datang dari orang Amerika misalnya pakaian, musik, hiburan, atau apa saja yang menjadi buatan orang Amerika.
Maka dari itu, kami tertarik untuk mengkritisi bagaimana pengaruh keberadaan majalah Playboy dalam kaitannya dengan budaya lokal. Yang terlihat ada perubahan di dalamnya.

Realitas Majalah Playboy
Majalah Playboy merupakan salah satu media pemberitaan internasional yang berpusat di Amerika Serikat. Di Asia, negara Jepang dan Indonesia dipercaya untuk menerbitkan Playboy, yang dipenuhi pose syur kaum hawa.
Playboy juga dikenal sebagai majalah dewasa yang terkenal dengan foto-foto wanita buginya. Selain foto-foto sensual, playboy juga memuat artikel mode, olahraga, barang-barang komersil, dan wawancara dengan tokoh-tokoh ternama. Nama majalah ini awalnya adalah ”Stag Party” dan tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan majalah outdoor ”Stag” yang lebih dahulu terbit.
Yang paling menonjol dari Playboy adalah logonya yang sangat terkenal. Yaitu kelinci bertuxedo menjadi maskot yang tidak tergantikan sejak majalah itu memasuki edisi keduanya pada 1953. Logo kelinci majalah Playboy di desain oleh Art Paul, orang pertama yang menjadi art director. Menurut Hugh Hefner, sang kreator dan pemilik Playboy, pemilihan kelinci sebagai logo majalah Playboy adalah karena simbol kelinci memiliki konotasi humor seksual yang tinggi, berkesan periang dan suka bermain-main.
Selain itu, logo kelinci tersebut sengaja didesain dengan pakaian tuxedo untuk memberikan kesan eksklusif. Kebanyakan orang menggambarkan kesan macho dan maskulin dengan bentuk tubuh yang kekar berotot, tetapi tidak demikian dengan Hugh Hefner, dia lebih memilih kelinci sebagai simbolnya dengan pemikiran lain daripada yang lain. Selain logo kelincinya yang menonjol, Playboy mempunyai hal lain yang unik. Yaitu sebutan bagi model yang berpose untuk majalah playboy dikenal dengan nama ”Playmate”.
Playboy versi Indonesia menegaskan majalahnya tidak akan memuat foto-foto telanjang. Ini sesuai permintaan manajemen Playboy Internasional agar Playboy Indonesia disesuaikan dengan kultur lokal.

Kontroversi Majalah Playboy
Penerbitan majalah Playboy di Indonesia menuai pro kontra. Dewan Pers sebenarnya tidak memiliki hak melarang penerbitan suatu media. Wakil Ketua Dewan Pers RH Siregar mengatakan penerbit Playboy harus mengacu pada kode etik yang berlaku. Namun, kode etik yang ada seperti tidak diindahkan oleh Playboy. Sehingga dapat kita lihat dengan mata telanjang bahwa Playboy telah memberikan pemberitaan yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh kita, sebagai budaya timur.
Aksi penolakan dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI). Mereka menuntut ada tindakan hukum terhadap penerbitan Playboy. FPI meminta agar semua pihak yang terlibat dalam penerbitan majalah Playboy, termasuk perusahaan pemasang iklan, dikenai sanksi hukum. FPI bahkan membakar satu eksemplar majalah Playboy sebagai symbol penolakan atas keberadaan majalah itu.
Dengan kemunculan majalah Playboy ini, kebanyakan masyarakat Indonesia berperilaku hipokrit. Mereka munafik dan tidak berani menunjukkan persetujuan akan adanya majalah tersebut, bahkan mereka seolah menolaknya.
Sebenarnya, di banyak Negara Asia termasuk RRC, Korea Selatan, India, Myanmar, Thailand, Malaysia, Taiwan dan Brunei, Playboy dilarang dijual maupun diedarkan. Selain itu, penjualan dan pengedarannyapun dilarang di hamper semua Negara Islam di Asia dan Afrika seperti Arab Saudi dan Pakistan. Di Amerika Serikat pun, Negara pertama diterbitkannya Playboy, Playboy tidak dijual disembarang toko. Di beberapa Negara bagian, majalah ini hanya dijual di toko minuman keras. Jadi, di tempat yang dilarang menjual minuman keras, Playboy pun juga dilarang.
Kapitalisme dibalik majalah Playboy
Kebudayaan yang merupakan hasil karya akal budi manusia dalam meningkatkan kualitas hidup. Idealnya, manusia sebagai pencipta kebudayaan yang lajunya harus dikendalikan. Namun, pada kenyataannya ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di zaman modern ini justru berbalik mengendalikan setiap gerak hidup manusia dalam system kapitalisasi seperti dalam teori kultivasi yaitu perilaku penonton dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat. Dalam hal ini, isi dari majalah Playboy yang semakin luntur budaya kelokalannya dapat mempengaruhi pola pikir dari pembacanya.
Keberadaan majalah Playboy digunakan pengusaha untuk mencari keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Institusi media memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya, bahkan mungkin mengesampingkan tanggungjawab sosial. Sehingga masyarakat cenderung berperilaku pragmatis akibat dari dampak keberadaan majalah tersebut.
Beberapa media tersebut menjadi alat propaganda yang terintegrasi bagi kaum kapitalis untuk semakin melebarkan sayapnya dalam penguasaan global. Bahkan bila memungkinkan, para pemilik modal global mengubah aturan-aturan yang berlaku di dunia media agar sesuai dengan kepentingan mereka.
Ketika seniman dan budayawan diharuskan memelihara jati diri dan nilai-nilai luhur seni budaya bangsa, mereka telah dihadapkan pada tekanan berat dari system kapitalis yang menyangkut kebutuhan dasar di era modern ini.
Berbagai negara di dunia, menjadi tujuan pemasaran produk-produk media yang diciptakan kaum kapitalis global. Terutama negara-negara berkembang dan terbelakang yang masih memiliki kaum menengah dengan penghasilan yang cukup untuk membeli produk kaum kapitalis. Seperti Asia, Amerika Selatan dan Eropa Timur.
Indonesia, merupakan target yang sesuai bagi para kapitalis global ini. Selain karena memiliki jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, kaum menengah Indonesia yang berperilaku konsumtif pun dianggap tepat untuk pemasaran produk kapitalis


Kritik Terhadap Majalah Playboy Terkait Dengan Budaya Lokal
Pada tahun 1970an, dimana peran wanita berubah dan emansipasi sedang ditegakkan, pose Playmate Playboy semakin berani dan menantang . Foto-foto bugil di Playboy biasanya dianggap sebagai pornografi oleh majalah porno pesaing Playboy seperti Penthouse, sebagai respon dari suksesnya Playboy. Kehadiran majalah franchise Playboy , menghadirkan berbagai komentar dan rata-rata menolak keberadaannya. Seperti salah satu penolakan oleh Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi (Perhimpunan MTP),LSM yang bergerak di bidang advokasi masyarakat mengenai bahaya pornografi.
Perhimpunan MTP menyebut bahwa citra majalah Playboy sangat kental dengan unsur seks yang ditampilkan secara jelas. Dan itu merupakan bentuk pornografi. Pornografi adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Seperti kita ketahui bahwa pornografi dianggap dapat merusak citra dan martabat bangsa yang menganut budaya ketimuran.
Masyarakat Indonesia sempat digegerkan oleh kemunculan majalah playboy yang diproduksi di Indonesia. Berbagai protes dilancarkan oleh berbagai kalangan, Ada yang pro, ada pula yang kontra. Sejauh ini, majalah Playboy Indonesia sangatlah berbeda dari majalah Playboy terbitan negara-negara Eropa. Tidak ada secuil pun foto telanjang dari model-model Indonesia yang muncul di majalah Playboy Indonesia.
Sebut saja Andhara Early, model majalah Playboy Indonesia edisi perdana muncul dengan tetap mengenakan busana. Tampaknya, majalah Playboy Indonesia akan menjadi majalah-majalah setipe FHM Indonesia, Maxim Indonesia, ataupun Popular. Walaupun demikian, peredaran majalah Playboy Indonesia masih sangat terbatas. Majalah ini tidak bisa sembarangan ditemukan di kios-kios Koran ataupun pedagang kaki lima. Hanya dapat dibeli di toko-toko buku besar seperti Gramedia. Download majalah Playboy Indonesia di internet juga tampaknya menjadi alternatif bagi masyarakat yang penasaran.
Permasalahan pornografi di Indonesia melejit setelah munculnya kabar diterbitkannya majalah super-porno Playboy. Tidak tanggung-tanggung, untuk edisi awalnya majalah ini akan terbit sekitar 200 halaman. Kemunculan majalah itu menuai banyak kritik, kritik lebih banyak ditujukan pada akibat keberadaan majalah itu akan semakin memuluskan orang (termasuk mahasiswa, pelajar/ remaja) untuk selalu berpikir negative. Lebih jauh lagi, melakukan seks bebas.
Dengan banyaknya yang menolak majalah playboy yang di terbitkan di Indonesia maka mereka menuntut dengan menyampaikan aspirasi agar DPR segera mengesahkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) yang masih dibahas. Mereka khawatir jika RUU APP tidak segera disahkan, generasi muda Indonesia akan semakin terjerumus dan menjadi korban.
Belum sampai ke tangan pembacanya, majalah Playboy versi Indonesia, sudah mengundang polemik. Walaupun jelas tidak menakutkan, orang-orang takut dengan foto-foto yang bakal dimuat. Dan dianggap bakal merusak Budaya Indonesia.
Majalah Playboy yang condong menampilkan budaya barat sangat bertentangan dengan budaya ketimuran bangsa kita. Namun, hal ini tidak dapat dihindari oleh kita. Karena hal tersebut merupakan konsekuensi dari globalisasi dan kapitalisme ekonomi. Yang mana globalisasi tersebut memberikan jalan bagi seseorang untuk berekspresi seluas mungkin tanpa mempertimbangkan budaya lokal yang ada di Indonesia. Dan globalisasi cenderung menciptakan kapitalisme media tanpa batas.
Penutup
Dari hasil analisis yang kami lakukan terhadap aspek-aspek yang melatar belakangi terbitnya majalah Playboy di Indonesia dapat kami simpulkan bahwa konten yang ada dalam majalah Playboy sedikit menyimpang terhadap nilai-nilai budaya ketimuran yang dianut bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya konsekuensi globalisasi dan kapitalisme ekonomi. Globalisasi tersebut yang dapat menjadikan seseorang berkreasi seluas mungkin dan menjadikan budaya lain bebas masuk tanpa memikirkan implikasi yang ada. Mereka hanya cenderung memikirkan keuntungan yang akan diperolehnya melalui hal tersebut sebanyak-banyaknya.












DAFTAR PUSTAKA
http://hot-social-news_post611.html. akses 15 Nov’09
http://showthread.php.htm. Akses 15 Nov’09
L.rivers, William. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern. Prenada Media: Jakarta
Lesmana,Tjipta,1995.Pornografi dalam Media Massa. Penebar Swadya: Jakarta
Shoelhi, Mohammad, 2009, Komunikasi Internasional : perspektif jurnalistik, Simbiosa Rekatama Media : Bandung

Tidak ada komentar: